• Breaking News

    BATANG GUO KEMBALI MENGAMUK, PEMERINTAH JANGAN HANYA MENJADI PENONTON!

              Oleh: DR. Ir. Zahrul Umar, Dipl. HE


    JELAJAHNEWS, Padang, (SUMBAR)|–Banjir besar kembali menerjang kawasan Batang Guo, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, pada 3 Agustus 2026. Peristiwa ini bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan alarm keras bahwa kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Guo telah memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan.Yang lebih memprihatinkan, bencana ini terjadi hanya sekitar sembilan bulan setelah banjir bandang 27 November 2025 yang juga menghancurkan kawasan yang sama. Dua kali banjir besar dalam waktu kurang dari setahun membuktikan bahwa akar persoalan belum disentuh secara serius. Jika pola penanganan hanya sebatas bantuan darurat dan kunjungan pejabat, maka masyarakat tinggal menunggu waktu sampai tragedi berikutnya kembali terjadi.Curah hujan yang tinggi memang menjadi pemicu. Namun hujan bukan satu-satunya penyebab. Hujan hanya memperlihatkan kelemahan sistem pengelolaan DAS yang selama ini dibiarkan rusak. Lereng yang kehilangan tutupan hutan, sedimentasi yang terus meningkat, serta aliran sungai yang tidak lagi stabil telah mengubah Batang Guo menjadi ancaman setiap musim hujan.Kerusakan DAS menyebabkan air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir deras menuju sungai. Bersamaan dengan itu, kayu, batu, lumpur, dan material lainnya ikut terbawa ke hilir. Akibatnya tanggul jebol, tebing sungai tergerus, rumah warga terancam, dan lahan pertanian rusak.Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka banjir besar akan menjadi peristiwa rutin. Pemerintah tidak boleh lagi hanya mengandalkan penanganan pascabencana. Yang jauh lebih penting adalah menghilangkan penyebab bencana itu sendiri.Langkah pertama yang harus segera dilakukan adalah memperbaiki DAS Batang Guo melalui reboisasi dan penghutanan kembali kawasan hulu. Vegetasi yang memadai akan meningkatkan kemampuan tanah menyerap air sehingga debit banjir dapat dikurangi. Memang, penghijauan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum memberikan hasil maksimal. Karena itu diperlukan langkah cepat yang dapat langsung mengurangi risiko.Salah satu solusi yang harus segera diwujudkan adalah pembangunan Sabo Dam di bagian hulu Batang Guo. Bangunan ini berfungsi menahan sedimen, batu-batu besar, batang kayu, serta material longsoran agar tidak meluncur ke daerah hilir ketika hujan deras terjadi. Dengan demikian, energi aliran sungai dapat dikurangi dan kerusakan di kawasan permukiman menjadi lebih kecil.Selain itu, pemerintah juga perlu membangun groundsill pada beberapa titik di bagian hilir sungai. Groundsill berfungsi menstabilkan dasar sungai, mengurangi kemiringan aliran, menekan kecepatan arus, serta mengurangi gerusan yang selama ini menghancurkan tebing sungai dan mengancam rumah-rumah warga.Kerusakan tebing sungai yang terjadi saat ini bukan semata-mata karena volume air yang besar, tetapi juga akibat tingginya kecepatan aliran. Semakin deras aliran, semakin besar daya rusaknya terhadap fondasi tebing dan bangunan pelindung sungai. Tidak mengherankan apabila rumah warga ikut hanyut dan infrastruktur mengalami kerusakan berat.Sudah saatnya pemerintah menghentikan kebiasaan bekerja setelah bencana datang. Pencegahan jauh lebih murah dibandingkan biaya rehabilitasi yang harus dikeluarkan setiap kali banjir terjadi. Kerugian masyarakat, rusaknya sawah, lumpuhnya aktivitas ekonomi, hingga trauma warga tidak akan pernah bisa diganti hanya dengan bantuan logistik.Kehadiran pemerintah di lokasi bencana tentu patut diapresiasi. Bantuan bagi masyarakat terdampak memang sangat diperlukan. Namun masyarakat juga membutuhkan kepastian bahwa pemerintah memiliki langkah nyata agar bencana serupa tidak terus berulang.Perencanaan teknis sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Para ahli sumber daya air telah lama mengetahui solusi yang harus dilakukan, mulai dari rehabilitasi DAS, pembangunan Sabo Dam, groundsill, normalisasi sungai pada titik kritis, hingga penguatan tebing sungai. Yang selama ini sering menjadi persoalan adalah lambannya pengambilan keputusan dan minimnya keberanian untuk bergerak cepat.Masyarakat tidak membutuhkan janji baru. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Jangan sampai setiap musim hujan pemerintah kembali sibuk menghitung jumlah rumah yang rusak, membagikan bantuan darurat, lalu melupakan akar persoalan setelah air surut.Batang Guo telah memberikan peringatan untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari setahun. Jika peringatan ini kembali diabaikan, maka banjir berikutnya bukan lagi sebuah kemungkinan, melainkan kepastian.Karena itu, pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang, serta seluruh instansi terkait harus segera menyusun aksi terpadu untuk menyelamatkan DAS Batang Guo. Jangan hanya melihat, jangan hanya mengamati, dan jangan hanya datang ketika bencana telah terjadi.Bertindak sekarang adalah pilihan. Menunda berarti membiarkan rakyat kembali menjadi korban.
    Dikutip dari : Sinyalgonews.com

    No comments

    Post Bottom Ad

    "BOFET HARAPAN PERI"